Tuesday, July 31, 2007

Unibraw Tak Ambil Pusing

                                                           Disadur dari www.brawijaya.ac.id
Kamis, 26 Juli 2007
MALANG -Mengejutkan. Begitulah hasil rilis Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional tentang daftar 50 besar perguruan tinggi (PT) unggulan kemarin. Betapa tidak, dalam rilis itu Unibraw Malang yang kini menginjak usia 44 tahun itu, tak termasuk dalam PT unggulan di Jatim.
Padahal, rilis itu menyebutkan sejumlah PT di Malang yang masuk kategori unggulan di antara 10 PT di Jatim lainnya. Yakni UM (Universitas Negeri Malang), Unmer (Universitas Merdeka Malang), UMM (Universitas Muhammadiyah Malang), dan UWG (Universitas Widyagama Malang).
Menurut Koordinator Kopertis (Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta) VII Wilayah Jatim Nadjadji Anwar (Jawa Pos, 25 Juli, 2007), kriteria penilaian itu dititikberatkan di antaranya, besarnya hibah kompetisi, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Juga atas dasar dinamika mahasiswa, kerja sama internasional, dan fasilitas kampus. Khusus kriteria dinamika mahasiswa ditekankan kehidupan mahasiswa dan banyaknya mahasiswa asing yang belajar di sebuah PT.
Direktur Kelembagaan Dirjen Dikti Prof Dr Supeno Djanali menyatakan banyaknya PT favorit yang absen dalam daftar penilaian Dikti tersebut karena PT yang bersangkutan "malas" mendaftar atau mengirim profil pencapaian kampusnya.

Bagaimana reaksi Unibraw? Rektor Unibraw Prof Ir Yogi Sugito mengaku cukup terkejut dengan rilis tersebut. Guru besar ilmu pertanian itu tidak habis mengerti dengan sejumlah kriteria yang ditetapkan Dikti tersebut.
"Saya heran saja, kalau memang yang menjadi parameter (kriteria penilaian) itu seharusnya Unibraw masuk. Ya, mungkin saja ada udang di balik batu," ungkap Yogi di ruang kerjanya kemarin.
Dia juga malah menyangsikan keakuratan rilis data tersebut. Misalnya, masalah besarnya dana hibah, Unibraw menempati urutan ke-5 di antara PTN di Indonesia. Menyangkut beasiswa juga demikian. Lembaga yang dipimpinya mencatat, hampir 5 ribu mahasiswa mendapatkan beasiswa dari enam dana pendamping.
Termasuk dengan riset, Unibraw mencatat jumlah tertinggi di Jatim dan sempat mendapatkan penghargaan tingkat Jatim. "Kalau riset jangan hanya mencatat, riset yang dibiayai dari Dikti saja. Kami malah sering mendapatkan dari lembaga lain. Misalnya, dari Menristek," jelasnya.
Tak terkecuali kegiatan mahasiswa, Unibraw menahbiskan diri sebagai PTN yang menempati urutan pertama di antara PTN/PTS di Indonesia sebagai lembaga aktif. "Jadi, saya rasa rilis tersebut tidak bersumber dari data yang akurat dan menyeluruh. Tidak perlu diributkan, biar masyarakat saja yang menilai. Masak, Unibraw kalah dengan PTS yang hampir gulung tikar," urainya seraya berkelakar.
Walau begitu Yogi menengarai, bisa jadi keluarnya rilis tersebut didahului dengan adanya laporan masing-masing perguruan tinggi ke Dikti. Hanya saja, sejauh ini pihak Unibraw sampai rilis tersebut keluar belum menerima imbauan apa pun yang sifatnya untuk penilaian.
"Masak mau dinilai, diberi tahu dulu. Tidak lucu kan? Anehnya lagi, Unibraw yang mendapat ranking ke-59 perguruan tinggi se-Asia malah tidak masuk. Penilaian ini diambil dari website Unibraw," ujar Yogi.
Lalu? Dia kembali menegaskan, jika harus mempersoalkan dengan PT yang dirilis tersebut ibarat bertanding melawan tim tidak selevel. "Harapan kami, Dikti melengkapi data base yang benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan," ujarnya. (hap)
RADAR MALANG Kamis, 26 Juli 2007  http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=168124&c=88

Posted by RacHmA at 17:47:42 | Permanent Link | Comments (0) |
Comments
Write a comment